Film The Jungle Book

Teknologi Ini Membuat Para Hewan di Film The Jungle Book Terlihat Sangat Nyata

2073

Seekor burung kecil berwarna biru terbang mengepakkan sayapnya yang mungil melintasi layar saat film adaptasi Disney terbaru dimulai. Adegan ini mengundang para penonton untuk masuk ke dalam sinema yang menyuguhkan pemadangan alam liar nan mistis sekaligus menimbulkan decak kagum bagaimana para pembuat film menggunakan teknologi CGI yang sangat canggih agar semua aspek ilusi di film The Jungle Book ini terlihat sungguhan.

Film The Jungle Book

Disutradarai oleh Jon Favreaui yang mengomandoi dua film Iron Man, film The Jungle Book ini meminjam alur dari film kartun Disney tahun 1967 dengan judul yang sama serta mengadaptasinya dari novel karya Rudyard Kipling. Tidak ayal, film ini pun mematok standar baru teknologi CGI dalam menciptakan hewan-hewan liar yang sangat nyata.

[nextpage title=”Teknologi CGI dan trik sutradara dalam film The Jungle Book”]

Tempat pengambilan gambar yang dilakukan di sebuah studio di Los Angeles, film ini menggabungkan seorang aktor tunggal yang dikelilingi oleh hewan-hewan yang diciptakan melalui animasi canggih. Anda mungkin masih ingat betapa mengejutkannya harimau di dalam film Life of Pi arahan Ang Lee yang ternyata dibuat melalui CGI. Dan film The Jungle Book mampu melampauinya.

Efek khusus film The Jungle Book digawangi oleh pemenang Oscar, Rob Legato, yang menggembrak melalui karyanya di dalam film Avatar. Bukannya menggunakan satu software khusus, Disney dan rekannya, termasuk studio efek khusus MPC dan WETA milik Peter Jackson, menggunakan sejumlah langkah demi menciptakan para hewan di dalam film yang sedang laris di bioskop ini. Semua pengambilan gambar dilakukan di sebuah studio tunggal di mana Neel Sethi yang memerankan Mowgli berinteraksi dengan sejumlah hewan liar tak kasat mata dan dikelilingi oleh layar biru serta properti pendukung lainnya.

“Kami mengambil gambar Neel dalam gerakan dan kami juga menggunakan aktor yang meniru ekspresi hewan saat ia tengah bercakap-cakap sehingga kami bisa melihat komposisinya secara langsung. Untuk itu kami menciptakan garis mata agar Neel bisa melihat tepat ke arah binatang rekaan kami,” jelas Legato seperti dikutip dari Inverse.

Seperti yang bisa Anda saksikan dari video di bawah ini, Sethi diminta untuk berakting dengan menggunakan properti sedikit mungkin. Hal ini dikarenakan jika mereka menambah latar fisik lain, mereka harus menghapusnya dari layar sehingga membutuhkan proses paska produksi yang jauh lebih panjang.

“Kami menggunakan properti seminimal mungkin karena saat para hewan berinteraksi di lingkungan di mana Sethi berada, mereka properti tersebut akan menciptakan bayangan, jadi kami harus menggantinya,” ujar Legato.

Saat berurusan dengan gerakan para hewan, mereka sedikit kesusahan. Disney tidak lagi mengizinkan para pembuat film The Jungle Book membawa hewan ke dalam studio untuk membantu para animator menciptakan gerakan yang tepat. Tradisi yang sudah lama terhenti sejak film The Lion King. Oleh karena itu, para animator harus bekerja ekstra keras menciptakan gerakan hewan yang benar-benar hidup melalui teknologi CGI dengan menirunya dari foto dan video.

Sekalinya para pembuat film The Jungle Book membawa hewan betulan ke dalam studi adalah saat mereka membawa anak anjing. Pada kesempatan itu, Sethi berinterasi dengan anak-anak anjing untuk adegan pembuka. Setelah memasuki bagian paska produksi, mereka mengubah anak-anak anjing tersebut menjadi serigala melalui teknologi CGI. Paska produksi memang menjadi proses yang sulit.

[nextpage title=”Sofware yang digunakan dalam film The Jungle Book”]

Pembuat film The Jungle Book juga menggunakan software animasi Maya guna menciptakan aspek-aspek hewan paling susah dan software RenderMan yang dikembangkan oleh studio Pixar guna menciptakan pencahayaan dan bayangan. Salah satu bagian paling krusial dalam menciptakan hewan melalui teknologi CGI adalah membuat gerakan alamiah secara real-time.

“Mereka menyebutnya grooming, dan ini tidak hanya membuat jutaan rambut bereaksi terhadap cahaya, rambut-rambut hewan juga harus dipermak sehingga terlihat sangat nyata,” jelas Legato.

Sementara itu, saat berhadapan dengan adegan paling sulit, komputer bertenaga canggih sangat diperlukan. Pembuat film The Jungle Book memerlukan waktu hingga 40 jam hanya untuk menciptakan satu kerangka adegan dalam film ini. Karena The Jungle Book juga berformat stereo (untuk versi 3D) maka pembuat film memerlukan dua kerangka untuk menciptakan satu kerangka adegan berformat 2K. Bayangkan berapa banyak kerangka adegan yang diperlukan untuk menciptakan gambar 4K.

Berurusan dengan angka, maka akan membuat kepala Anda mendidih. Untuk satu detik film diperlukan hingga 24 kerangka adegan dan kebanyakan pengambilan gambar per kerangka antara satu hingga lima detik. Legato menyebutkan mereka memerlukan komputer canggih yang sangat banyak.

“Saya pikir mereka mulai menggunakan cloud Google yang memiliki sepuluh ribu komputer dan terkadang mereka memerlukan satu hingga dua hari untuk mengambil sebuah gambar,” jelas Legato.

Tidak sia-sia, hasil akhir yang dikerjakan oleh para animator, sutradara, pengawas efek khusus, para aktor, dan semua yang terlibat dalam film ini berbuah masih. Selain meraih rating 8 pada situs IMDB dan 94% pada situs Rotten Tomatoes, hingga artikel ini ditulis The Jungle Book telah meraih pendapatan sebanyak USD 393,8 juta di seluruh dunia. Tertarik untuk menonton dan masuk ke dalam dunia alam liar rekaan CGI yang terasa begitu hidup?




Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.