Samsung Merubah Strategi Penjualan, Bakal Banyak Ponsel High-End Harga Mid-Range

3968

Samsung Electronics berencana untuk merombak strategi ponsel cerdasnya pada titik harga mid-range untuk lebih menarik bagi generasi millennial

DJ Koh, President of Mobile Communications Samsung Electronics Co, mengatakan raksasa Korea Selatan itu mengubah strategi ponsel pintarnya untuk seri smartphone Galaxy A kelas menengah di tengah melambatnya pasar handset. 

Alih-alih memperkenalkan teknologi baru ke dalam seri unggulan Galaxy S dan Note, Koh mengatakan Samsung akan melihat untuk membawa fitur-fitur canggih ke model yang lebih murah terlebih dahulu. Yang pertama dari perangkat ini akan datang akhir tahun ini.

“Di masa lalu, saya membawa teknologi baru dan diferensiasi ke model andalan dan kemudian pindah ke mid-end. Tapi saya telah mengubah strategi saya dari tahun ini untuk membawa teknologi dan poin diferensiasi mulai dari pertengahan-akhir,” ungkap Koh yang dilancsir dari CNBC dalam wawancara eksklusifnya minggu lalu.

Tentunya strategi ini tidak terjadi tiba-tiba. Langkah ini diambil ketika pertumbuhan smartphone Samsung secara global mengalami perlambatan. Penjualan di divisi ponsel turun 20 persen tahun ke tahun di kuartal kedua tahun 2018 termasuk penjualan perangkat Galaxy S9 high-end yang lebih rendah dari perkiraan.

Persaingan yang membuat tekanan pada Samsung saat ini bisa jadi karena pemain smatphone Cina seperti Huawei, Oppo, Vivo dan Xiaomi, semuanya menghadirkan perangkat dengan spesifikasi tinggi dengan harga lebih murah, terutama pada segmen pasar Samsung yang biasanya mendominasi.

Meskipun terjadi perlambatan global untuk smartphone, beberapa pasar seperti India dan negara-negara lain di Asia Tenggara semakin berkembang, tetapi konsumen menginginkan harga murah dengan handset spesifikasi tinggi. Itu adalah pasar yang ingin dicoba oleh Samsung dengan perangkat yang akan datang.

Koh mengatakan bahwa pergeseran strategi juga merupakan upaya untuk menarik lebih banyak pengguna milenial. “Jadi kami sangat berfokus pada generasi millennial yang tidak mampu mendapatkan (hanset) unggulan. Tapi bagaimana saya dapat memberikan inovasi yang berarti bagi generasi millenial kami? Itulah alasan saya mencoba membedakan bagian tengah,” kata Koh.