Pelajar Jepang menggunakan VR untuk merekontruksi ulang pengeboman di Hiroshima

146

Pengeboman terbesar dalam sejarah terjadi di kota Hiroshima, Jepang di pagi hari musim panas dimana para warganya tengah melakukan aktivitas harian. Burung cicadas berkicau di pepohonan. Sebuah pesawat terlihat terbang di ketinggian dan tiba-tiba kilatan cahaya, diikuti suara ledakan yang hebat meratakan tanah serta gedung-gedung dan meninggalkan kabut asap dibawah langit yang tiba-tiba berubah gelap.

Selama dua tahun belakangan, suatu grup yang terdiri dari para pelajar SMA di Jepang terlihat begitu telaten memproduksi  lima menit rekonstruksi pemandangan dan suasana kota Hiroshima dalam wujud Virtual Reality sebelum, selama dan sesudah AS menjatuhkan bom atom di kota ini 73 tahun yang lalu.

Mereka membawa pengguna VR kembali ke masa lalu dimana seluruh kota telah berubah menjadi puing-puing terlantar, lewat rekonstruksi ini, para siswa dan guru berharap supaya kejadian serupa tidak terulang kembali.

6 Agustus 1945, pemboman Hiroshima menewaskan 140.000 orang. Tiga hari kemudian, bom atom AS kedua menewaskan 70.000 orang di Nagasaki. Jepang menyerah enam hari setelah itu, menandakan Perang Dunia II telah berakhir.

“Bahkan saat Anda melihat gambar, Anda dapat langsung mengerti, tanpa bahasa” kata Mei Okada, salah satu siswa yang mengerjakan proyek di sekolah menengah teknik di Fukuyama, berjarak sekitar 100 kilometer (60 mil) timur Hiroshima. “Itu jelas salah satu manfaat dari pengalaman VR ini.”

Dengan memakai headset virtual reality, pengguna dapat berjalan-jalan di sepanjang Sungai Motoyasu sebelum ledakan dan melihat Industri dan bangunan yang pernah berdiri. Mereka dapat memasuki kantor pos dan halaman Rumah Sakit Shima, di mana sisa-sisa kerangka bangunan yang sekarang dikenal sebagai Kubah Bom Atom berdiri di tepi sungai, sebagai bukti akan apa yang pernah terjadi.

Para siswa yang berasal dari klub penelitian keterampilan perhitungan di Fukuyama Technical High School merupakan generasi yang lahir lebih dari setengah abad setelah pemboman. Yuhi Nakagawa, 18, mengatakan bahwa awalnya dia tidak tertarik dengan apa yang terjadi ketika bom dijatuhkan; kalaupun ada, itu adalah topik yang paling dihindarinya.

“Ketika saya sedang membuat bangunan sebelum bom atom jatuh dan setelahnya, saya melihat banyak foto bangunan yang hilang. Saya benar-benar merasakan betapa menakutkannya bom atom,” katanya. “Jadi saat menciptakan pemandangan ini, saya merasa terdorong untuk membagikan ini dengan yang lain.”

Untuk menciptakan Hiroshima, para siswa mempelajari foto-foto lama, kartu pos dan mewawancarai para korban yang selamat dari pengeboman, serta mendengarkan pengalaman korban.

“Mereka yang mengenal kota Hiroshima memberitahu kami bahwa proyek ini dikerjakan dengan sangat baik dan alat ini membawa mereka kepada nostalgia,” kata Katsushi Hasegawa, seorang guru komputer yang mengawasi jalannya klub. “Kadang-kadang mereka mulai mengenang kenangan mereka dari waktu itu, dan itu benar-benar membuat saya senang bahwa kami menciptakan ini.”