Microsoft Sambut Hari Pendidikan dengan Skype-a-Thon Bersama 1000 Guru di Indonesia

367

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi atau yang lebih dikenal dengan istilah Revolusi Industri 4.0, sangat memengaruhi dunia Pendidikan Indonesia. Bertepatan dengan hari Pendidikan Nasionalpada tanggal 2 Mei, Microsoft Indonesia bersama dengan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dalam program kerja sama pemberdayaan teknologi bagi guru berjudul Indonesia Borderless Classroom, kembali menggelarSkype-a-Thon untuk kali ke-sepuluh dengan tema: Educators 4.0: Create the world of tomorrow in your classroom! Kegiatan ini menjadi bentuk dukungan Microsoft atas usaha pemerintah dalam pembenahan aspek penguasaan teknologi dibidang pendidikan, dimana Guru diharapkan memiliki kemampuan dasar Digital Literacy (literasi digital) untuk dapat mentransformasikan kelas di masa mendatang.

Ketua Umum PGRI, Dr. Unifah Rosyidi, M. Pd. mengatakan bahwa pelatihan yang diberikan kepada guru untuk merespon Revolusi Industri 4.0 masih kurang. Dampak dari kurangnya pelatihan ini adalah ketidakmampuan guru merespon perkembangan tuntuan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang nantinya juga berdampak pada kualitas perserta didik. Hal ini juga terkait erat dengan rencana pemerintah Indonesia yang telah menyusunroadmap Industri 4.0 dengan bantuan sejumlah pihak. Roadmap ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri nasional di kancah global, serta dapat menjadikan Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia di 2030. “PGRI bertekad menjadikan guru sebagai lokomotif perubahan. Perubahan yang masif memerlukan akselerasi melalui teknologi. Microsoft berperan mendorong guru sebagai lokomotif perubahan” jelasnya.

“Transformasi teknologi pada era Revolusi Industri ke-4 yang akan datang, membuat Microsoft merasa perlu untuk membekali semua pihak, khususnya penggerak Pendidikan bangsa agar siap bersaing di masa depan,” ujar Obert HoseantoPublic Sector Education Programs Manager Microsoft Indonesia. “Dengan Skype-a-Thon Indonesia Borderless Classroom, diharapkan para guru lebih familiar dengan jenis teknologi belajar mengajar seperti Skype, OneNote dan Office 365 yang dapat menjadikan komunikasi dan edukasi lebih terintegrasi ke depannya. Selain itu, kami berharap peserta dapat mengetahui kompetensi apa saja yang perlu dimiliki terutama terkait kompetensi literasi digital untuk menghadapi perubahan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat cepat ini.”

Skype-a-Thon merupakan program kegiatan tahunan Microsoft yang bertujuan untuk menghubungkan ruang kelas dari berbagai belahan dunia, sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi dapat meningkatkan pengalaman belajar. Pada tahun ini, Skype-a-Thon melibatkan 25 titik penyelenggaraan di seluruh Indonesia yang akan mengikuti sesi narasumber dari kantor PB PGRI di DKI Jakarta, bersama lebih dari 1000 guru.

Penyelenggarana Skype-a-thon di Indonesia juga mendukung inisiatif Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang mencanangkan tiga literasi baru untuk memperbaharui Pendidikan Tinggi di Indonesia berfokus pada literasi data, literasi teknologi dan literasi manusia.

“Kami berfokus kepada pengembangan keprofesian berkelanjutan, dimana program ini kami rancang untuk terus dapat menyentuh lebih banyak guru. Misi Microsoft adalah untuk memberdayakan setiap orang dan setiap organisasi di dunia untuk meraih lebih, termasuk para guru,” tutup Obert.