Kimbho, Aplikasi Chat “Pembunuh WhatsApp” Penuh Celah Keamanan

2041

Kimbho, Aplikasi Chat dengan logo Keong yang diperkenalkan oleh seorang guru yoga India dan dijuluki “Pembunuh WhatsApp”, telah dihapus dari App Store di tengah kehebohan atas celah keamanan.

Produk dari Patanjali Baba Ramdev meluncurkan applikasi chat bernama Kimbho pada hari Kamis (31/5/18), menyebutnya sebagai produk  pesaing (homegrown) untuk aplikasi chat lainnya.

Tetapi beberapa jam setelah “peluncuran”, para ahli menunjukkan bahwa aplikasi tersebut tidak aman dan data penggunanya dapat diakses dengan mudah.

Dilansir dari BBC News, Patanjali mengatakan kepada BBC bahwa aplikasinya tidak memiliki kekurangan dan mereka telah memperkenalkannya selama satu hari untuk mengukur minat publik awal.

SK Tijarawala, juru bicara Patanjali Products, mengatakan “Kimbho akan menunjukkan kepada dunia bahwa India dapat menjadi pemimpin dalam teknologi global.”

“Kami merilis aplikasi hanya untuk sehari untuk memahami bagaimana reaksi publik. Tanggapannya sangat fenomenal. Kami akan meluncurkan aplikasi ini dalam waktu dekat dan kemudian saya akan dengan senang hati menjawab pertanyaan terkait keamanan apa pun,” ucapnya menambahkan.

Aplikasi ini bisa dikatakan sebagai awal dari usaha Sang Guru ke dalam industri teknologi. Perusahaannya, Patanjali, sudah menjadi kerajaan bisnis besar yang menjual berbagai macam produk mulai dari sampo dan sereal hingga krim kulit dan mi instan.

Seorang peneliti keamanan cyber, dalam tweetnya dengan nama Elliot Alderson, menunjukkan bahwa Patanjali mungkin terburu-buru meluncurkan aplikasi.

Penulis teknologi Prasanto K Roy mengatakan kepada BBC bahwa “Kimbho sudah jelas merupakan sebuah pengulangan yang cepat dan kasar dari sebuah aplikasi chat yang disebut Bolo Messenger, dengan beberapa, tetapi tidak semua, referensi ke Bolo digantikan oleh Kimbho”.

Prasanto juga menambahakan bahwa Yang paling mengkhawatirkan, aplikasi Kimbho ini menyimpan data dalam teks yang mudah dibaca, dan proses untuk memverifikasi identitas pengguna (pesan teks yang berisi kata sandi) dapat dengan mudah disebarkan oleh peretas, yang kemudian dapat membaca pesan pengguna lain.

Alt News India juga melaporkan bahwa Patanjali “Secara sederhana mengubah nama aplikasi pesan yang disebut ‘Bolo Messenger’ yang telah dikembangkan oleh perusahaan baru di AS “.

“Semua bukti yang dipajang jelas menunjukkan bahwa Baba Ramdev’s Patanjali telah mengubah nama aplikasi yang sudah ada dan meneruskannya sebagai aplikasi Kimbho ‘Swadeshi’,” demikian yang disampaikan dari laporan itu.

Tapi Tijarawala menolak klaim tersebut. “Aplikasi ini telah dikembangkan in-house di Patanjali oleh para insinyur dan pengembang kami yang bekerja di dalamnya. Anda akan memahami dan melihat upaya mereka ketika kami secara resmi meluncurkan aplikasi,” katanya.

India, yang diharapkan memiliki 500 juta pengguna internet pada bulan Juni ini, sudah menjadi pasar terbesar untuk aplikasi chat WhatsApp.