Facebook Meningkatkan Pengenalan Ragam Bahasa Global Melalui AI

86

Facebook menggunakan AI untuk meningkatkan mesin terjemahan yang memungkinkan media sosial terpopuler itu untuk mengenali dan menerjemahkan 24 jenis bahasa baru. Beberapa terjemahan bahasa baru tersebut termasuk di antaranya mencakup bahasa Serbia dan Belarusia ke Bahasa Inggris (Eropa), Zulu, Somali ke Bahasa Inggris (Afrika), dan Kamboja, Mongolia ke Bahasa Inggris (Asia).

Lebih dari 6 miliar terjemahan berlangsung di Facebook setiap harinya. Biasanya komputer menggunakan apa yang disebut dengan Optical Character Recognition atau OCR untuk mendeteksi konten di gambar atau video. Namun karena pengguna bulanan Facebook mencapai 2,2 miliar, sistem lama itu tidak bisa lagi digunakan. Karena itulah Facebook kini membangun sistem sendiri dengan skala yang lebih besar.

Anggota Facebook AI Research (FAIR) serta divisi Pembelajaran Mesin Terapan Facebook secara aktif bekerja untuk menerapkan terjemahan tanpa pengawasan untuk menerjemahkan beragam bahasa seperti Urdu ke Inggris. Direktur laboratorium FAIR Paris Antoine Bordes mengatakan dalam sebuah wawancara telepon.

Metode seperti ini dapat memungkinkan Facebook tidak hanya mengenali jenis bahasa dengan sedikit terjemahan yang diketahui, tetapi Bordes percaya bahkan Facebook dapat menguraikan bahasa dari planet lain.

“Kita bisa pergi sekarang di sebuah planet di mana penghuninya berbicara bahasa yang tidak dimengerti oleh makhluk lain- OK, alien – dan Anda benar-benar dapat pergi dan mencoba untuk memiliki terjemahan yang layak dari apa yang dikatakan di sana,” katanya.

Juga diumumkan hari ini: Facebook memperkenalkan Rosetta, sebuah sistem visi komputer yang dibangun untuk mengekstrak teks dari gambar-gambar yang beredar di Facebook dan Instagram untuk memoderasi konten. Rosetta saat ini memproses satu miliar gambar setiap harinya. Dengan sistem AI terbaru ini, Facebook akan lebih mudah mendeteksi konten yang termasuk dalam hate speech. Hal ini disebabkan karena Facebook mengalami tahun yang berat perihal tuduhan hate speech yang disinyalir menyulut kekerasan di Myanmar, Sri Lanka, dan India.