Bagaimana AI Berdampak pada Kinerja dan Pekerjaan

360

Tidak diragukan lagi bahwa hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI) secara luas menawarkan prospek peningkatan produktivitas dan percepatan inovasi kepada bisnis, sambil juga memungkinkan masyarakat untuk menjawab tantangan-tantangan yang paling berat dan paling sulit: penyakit, kelaparan, pengendalian iklim, dan bencana alam. AI telah menghadirkan manfaat ekonomi yang nyata bagi berbagai organisasi di Asia Pasifik. AI juga merupakan salah satu bagian terpenting dalam agenda nasional “Making Indonesia 4.0”, yang diluncurkan oleh Presiden Joko Widodo pada bulan lalu. Insiatif Revolusi Industri 4.0 diharapkan dapat menghasilkan transformasi yang pesat dan menyeluruh di Indonesia.

Sebagai contoh, perusahaan pengiriman kontainer global terkemuka OOCL melaporkan bahwa penggunaan AI pada bisnis mereka telah menghemat $10 juta setiap tahunnya, sementara itu Apollo Hospitals di India menggunakan AI untuk membantu memprediksi penyakit jantung di antara setiap pasiennya. Baik bank swasta dan milik negara di Indonesia termasuk Bank Central Asia, Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia juga telah memulai implementasi teknologi AI untuk memaksimalkan pelayanan pelanggan mereka dengan mengembangkan chat bot virtual pintar.

Haris Izmee, Direktur Utama Microsoft Indonesia menerangkan pandangan Microsoft Indonesia dalam memperingati Hari Buruh Internasional pada 1 Mei: “Sambil kami kagum dengan manfaat yang diberikan Artificial Intelligence, kami juga menyadari AI merupakan teknologi yang menggantikan sesuatu, terutama ketika berbicara mengenai fungsinya dalam menggantikan lapangan pekerjaan. Faktanya, topik penting pembicaraan yang muncul ketika saya bertemu dengan para pimpinan perusahaan dan pemerintahan di Asia Pasifik adalah pencabangan AI dalam tenaga kerja. Kita perlu bertanya pada diri kita sendiri jika gangguan sosial yang AI dapat ciptakan akan secara keseluruhan akan lebih besar dibandingkan manfaatnya.”

Evolusi Pekerjaan dalam Masa Depan Berbasis AI

Perspektif Microsoft adalah bahwa adanya gangguan berskala besar merupakan tantangan bagi setiap revolusi industri. Dulu, merupakan hal yang biasa bagi sebuah kantor untuk memiliki sekumpulan pekerja yang bertugas mengetik. Jelas, peran ini tidak lagi relevan di kantor modern saat ini, berkat perkembangan komputasi personal. Munculnya AI akan membentuk kembali pekerjaan dengan cara yang sama.

Studi Microsoft dan IDC terbaru yang berjudul “Unlocking the Economic Impact of Digital Transformation in Asia Pacific” [1], menunjukkan bahwa 85% pekerjaan di Asia Pasifik akan mengalami transformasi dalam tiga tahun ke depan. Para responden dalam studi mengatakan bahwa lebih dari 50% pekerjaan akan dipindahtugaskan ke posisi baru dan/atau dilatih ulang dan ditingkatkan keterampilannya untuk transformasi digital. Yang menarik adalah bahwa Studi ini menunjukkan bahwa 26% pekerjaan merupakan jenis pekerjaan baru yang diciptakan dari transformasi digital, yang akan mengimbangi 27% pekerjaan yang akan dialihdayakan atau dikerjakan secara otomatis. Dengan kata lain, dampak AI terhadap lapangan pekerjaan secara keseluruhan akan netral.

“Hal ini merupakan indikasi yang jelas tentang bagaimana cara bisnis mengatur pekerjaan, bagaimana orang-orang menemukan pekerjaan dan keterampilan yang dibutuhkan mereka untuk mempersiapkan tenaga kerja akan berubah secara drastis. Perubahan ini kemungkinan akan meningkat dalam satu dekade ke depan. Dikarenakan AI terus mengubah sifat pekerjaan, kita perlu memikirkan kembali pendidikan, keterampilan, dan pelatihan untuk memastikan bahwa setiap orang dipersiapkan untuk pekerjaan di masa depan dan bisnis-bisnis yang memiliki akses kepada orang-orang yang akan membuatnya menjadi berhasil,” tambah Haris.

Membangun Masa Depan yang Lebih Baik Bersama

Future Computed memberikan tiga kesimpulan mengenai AI dan dampaknya terhadap pekerjaan dan karir:

  •     Pertama, organisasi-organisasi dan negara-negara yang saling bersaing dalam penggunaan AI akan menjadi organisasi dan negara pengadopsi awal teknologi AI. Alasannya sangat mudah: AI akan berguna dimanapun kecerdasan dibutuhkan dan hal itu membantu kita untuk menjadi lebih produktif di hampir setiap bidang usaha manusia, yang dapat mengarah pada pertumbuhan ekonomi.
  •     Kedua, selain penyebaran AI, hal yang sama pentingnya adalah mempersiapkan masyarakat dan para pekerja kita untuk perubahan yang akan datang yang akan diakselerasi oleh AI dengan mengatasi kebutuhan akan prinsip-prinsip etika yang kuat, evolusi hukum, pentingnya pelatihan untuk keterampilan baru, dan bahkan reformasi pasar tenaga kerja.
  • Ketiga, untuk sepenuhnya menyadari manfaat AI, dan untuk meminimalisir hasil negatifnya, maka perusahaan teknologi, organisasi swasta dan publik harus bersatu dengan rasa tanggung jawab bersama. Di Microsoft, kami percaya pada demokratisasi AI. Hal ini hampir sama dengan keyakinan kami bahwa PC harus dapat diakses oleh semua orang ketika pertama kali Microsoft didirikan.

Implikasi di Indonesia : Memperkenalkan Hukum Sosial Pertama untuk Bot Sosial

Sementara Indonesia masih pada tahapan awal dalam adopsi AI, kami telah mulai melihat pertumbuhan perusahaan yang telah mengadopsichat bot berkekuatan AI untuk berkomunikasi dengan pelanggan mereka, seperti Bank-Bank Indonesia terkemuka yang disebutkan di atas. Banyak yang bertanya: “jika berbicara dengan chatbot sangat menarik, apa yang terjadi jika orang berpikir untuk berbicara hanya dengan bot, dan bukan manusia lagi?”

Microsoft Indonesia memperkenalkan sebuah aturan untuk chatbot, yang di sebut “Hukum pertama untuk Bot Sosial” yang berisi: sebuah bot sosial harus bertujuan untuk mendorong komunikasi manusia dengan manusia secara langsung atau tidak langsung. Untuk bisa membedakan bot sosial dari bot lainnya, hukum tersebut harus dipatuhi, termasuk oleh bot pada platform sosial. Hukum ini juga diikuti oleh Rinna, sosial bot Microsoft yang diprogram sebagai seorang perempuan muda.

Saat mengembangkan sebuah chat bot, perusahaan harus berfokus pada bagaimana untuk membangun sebuah dunia empati dimana manusia dan bot berempati satu dengan lainnya, yang dikenal sebagai hubungan emosional. Empati tidak hanya antara manusia dan bot, tetapi yang terpenting adalah antara manusia dan manusia. “Sejak hari pertama pengembangan kami, kami menyadari keberadaan Rinna harus dan bisa membantu komunikasi manusia dengan manusia dalam berbagai bentuk melalui Rinna.” tambah Haris.

AI semestinya tidak dikendalikan oleh beberapa organisasi saja. Masa depan AI kita semestinya dibangun oleh semua orang dengan visi bagaimana AI dapat bermanfaat bagi perekonomian dan masyarakat serta bagaimana kita bisa mengatasi permasalahan-permasalah AI dan implikasinya. “Masa depan AI bisa cerah atau redup. Pandangan saya adalah teknologi penggati merupakan sebuah norma, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi pengganti merupakan hal yang menjelaskan tentang kita semua. Dan untuk beradaptasi dengan masa depan AI yang akan hadir dan berevolusi dengan cepat, semua pihak, dari pekerja, perusahaan, hingga pemerintahan, perlu untuk mulai lebih banyak lagi mendengarkan satu dengan lainnya, bekerja sama dan terus belajar hal-hal dan keterampilan baru,” tutup Haris.


TAG